Tegangan geser pada las merupakan gaya internal yang bekerja sejajar permukaan sambungan, menentukan kekuatan struktur baja secara keseluruhan. Perhitungan yang akurat mencegah kegagalan fatal pada konstruksi.
Kegagalan sambungan las berkontribusi terhadap 65% kerusakan struktural pada bangunan baja di Indonesia. Angka ini mengkhawatirkan mengingat banyak praktisi masih mengabaikan perhitungan tegangan geser yang tepat. Dalam proyek konstruksi baja, kesalahan sekecil 10% dalam estimasi tegangan geser dapat memicu retak propagasi yang berujung pada keruntuhan total.
Berdasarkan standar SNI 1729 tentang spesifikasi baja struktural, tegangan geser izin untuk las sudut adalah 0,3 × Fu (kuat tarik minimum logam las), sementara untuk las tumpul mencapai 0,4 × Fy (tegangan leleh material dasar).
Apa Itu Tegangan Geser pada Las dan Mengapa Perhitungannya Kritis?
Tegangan geser las adalah distribusi gaya per satuan luas yang bekerja paralel terhadap bidang sambungan, menyebabkan lapisan material bergeser relatif satu sama lain. Berbeda dengan tegangan tarik yang menarik material terpisah, tegangan geser “menggunting” sambungan secara horizontal.
Pemahaman mendalam tentang konsep ini menjadi fondasi dalam merancang sambungan las yang aman. Setiap welder bersertifikat wajib memahami bagaimana gaya eksternal ditransfer melalui sambungan.
Mekanisme Transfer Beban pada Las
Ketika beban diterapkan pada struktur, gaya tersebut mengalir melalui joint mengikuti jalur resistansi minimum. Pada las sudut (fillet weld), tegangan terkonsentrasi di tenggorokan efektif – area terkecil yang menahan beban.
Proses pengelasan menciptakan zona transisi antara logam induk dan filler metal. Area ini, dikenal sebagai Heat Affected Zone (HAZ), memiliki karakteristik mekanis berbeda yang mempengaruhi distribusi tegangan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besaran tegangan geser meliputi:
- Geometri sambungan: ukuran kaki las dan panjang efektif
- Kualitas penetrasi: kedalaman penetration las yang tercapai
- Orientasi beban: sudut antara gaya dan sumbu las
- Cacat internal: keberadaan porosity atau undercut
Inspeksi menggunakan metode NDT (Non-Destructive Testing) seperti pengujian ultrasonik membantu mengidentifikasi diskontinuitas yang mengurangi kapasitas geser efektif.
Bagaimana Cara Menghitung Tegangan Geser Las Sudut (Fillet Weld)?
Rumus dasar tegangan geser las sudut: τ = P / (0,707 × a × L), di mana P adalah gaya, a adalah ukuran kaki las, dan L adalah panjang efektif las. Faktor 0,707 merepresentasikan dimensi tenggorokan efektif pada las sudut 45 derajat.
Langkah 1: Identifikasi Parameter Geometri
Ukur ukuran kaki las menggunakan welding gauge. Untuk profil Wide Flange (WF) atau H-Beam, perhatikan ketebalan web dan flange sebagai batasan ukuran las maksimum.
Langkah 2: Hitung Luas Tenggorokan Efektif
A_throat = 0,707 × a × L_efektif
Panjang efektif las dihitung sebagai panjang aktual dikurangi 2 × ukuran kaki untuk mengakomodasi end return yang kurang sempurna.
Langkah 3: Tentukan Tegangan Geser Aktual
τ_aktual = P / A_throat
Langkah 4: Bandingkan dengan Tegangan Izin
Berdasarkan standar AISC dan AWS D1.1, tegangan geser izin untuk elektroda E70xx:
τ_izin = 0,3 × 70 ksi = 21 ksi (≈ 145 MPa)
Contoh Perhitungan Praktis
Sebuah sambungan lap pada gusset plate menerima gaya tarik 150 kN. Las sudut bilateral dengan ukuran kaki 8 mm dipasang sepanjang 200 mm di kedua sisi.
| Parameter | Nilai | Satuan |
| Gaya (P) | 150 | kN |
| Ukuran kaki (a) | 8 | mm |
| Panjang tiap sisi | 200 | mm |
| Total panjang efektif | 2 × (200 – 16) = 368 | mm |
Perhitungan:
- Luas tenggorokan = 0,707 × 8 × 368 = 2.081 mm²
- Tegangan geser aktual = 150.000 / 2.081 = 72,1 MPa
- Tegangan izin E70xx = 145 MPa
- Rasio utilisasi = 72,1/145 = 0,50 (Aman, < 1,0)
Verifikasi perhitungan ini harus dilakukan oleh Welding Engineer dan didokumentasikan dalam WPS (Welding Procedure Specification).
Apa Kelebihan dan Kekurangan Berbagai Jenis Sambungan Las untuk Menahan Geser?
Las sudut (fillet) unggul dalam kemudahan fabrikasi dan ekonomi, sementara las tumpul (groove) memberikan kapasitas geser tertinggi untuk sambungan kritis. Pemilihan bergantung pada magnitude beban, aksesibilitas, dan standar yang diacu.
Kelebihan Las Sudut untuk Aplikasi Geser
Las sudut mendominasi 80% sambungan struktural karena beberapa keunggulan:
- Preparasi minimal: Tidak memerlukan beveling pada plat baja
- Proses cepat: Ideal untuk prefabricated steel structure
- Inspeksi visual mudah: Welding Inspector dapat mengevaluasi kualitas weld bead secara langsung
- Toleransi fit-up tinggi: Mengakomodasi variasi dimensi hasil pemotongan
Untuk struktur seperti rangka atap baja atau kuda-kuda baja, las sudut dengan metode SMAW atau GMAW memberikan efisiensi optimal.
Kekurangan dan Mitigasinya
| Kekurangan | Dampak | Mitigasi |
| Konsentrasi tegangan di root | Inisiasi retak | Gunakan end return minimum 2× ukuran kaki |
| Kapasitas terbatas | Tidak cocok untuk beban besar | Kombinasikan dengan las tumpul penetrasi lengkap |
| Sensitif terhadap cacat | Porosity mengurangi kapasitas | Kontrol shielding gas dan kebersihan |
| Distorsi termal | Mempengaruhi toleransi dimensi | Terapkan sekuens pengelasan terencana |
Penggunaan welding table yang stabil dan fixture yang tepat membantu meminimalkan distorsi selama proses fabrikasi.
Las sudut optimal untuk beban lateral moderat pada stiffener, cleat, dan gusset angle. Untuk sambungan momen kaku dengan tegangan geser tinggi, pertimbangkan las tumpul penetrasi lengkap.
Perbandingan Metode Perhitungan: LRFD vs ASD untuk Tegangan Geser Las
Metode LRFD (Load and Resistance Factor Design) menghasilkan desain 10-15% lebih ekonomis dibanding ASD (Allowable Stress Design) untuk sambungan las dengan beban dominan tunggal, namun ASD tetap relevan untuk struktur dengan kombinasi beban kompleks.
Tabel Perbandingan
| Kriteria | LRFD | ASD | Eurocode (EN) |
| Faktor keamanan | Φ = 0,75 (geser) | Ω = 2,0 | γM2 = 1,25 |
| Basis filosofi | Probabilistik | Deterministik | Semi-probabilistik |
| Kapasitas las sudut E70 | Φ × 0,6 × Fexx = 0,45 Fexx | 0,6 Fexx / Ω = 0,30 Fexx | 0,5 × fu / γM2 |
| Kompleksitas perhitungan | Tinggi | Sedang | Tinggi |
| Adopsi di Indonesia | SNI 1729 | Legacy | Proyek multinasional |
| Standar acuan | AISC 360 | AISC 9th Ed | EN 1993-1-8 |
Pemahaman mendalam tentang LRFD vs ASD menjadi esensial bagi engineer yang menangani proyek dengan standar berbeda.
Untuk Beban Gravitasi Dominan (beban mati + hidup):
LRFD memberikan keuntungan karena faktor beban mati (1,2) lebih rendah dibanding rasio keamanan ASD. Sambungan pada balok lantai bangunan baja bertingkat umumnya lebih ekonomis dengan LRFD.
Untuk Beban Lateral Signifikan (beban angin dan beban gempa):
Kedua metode menghasilkan hasil serupa karena faktor beban lateral LRFD (1,0-1,6) mengimbangi perbedaan filosofi. Struktur di zona seismik tinggi memerlukan analisis kode perencanaan struktur gempa yang komprehensif.
Untuk Sambungan Fatigue (sambungan fatigue):
ASD dengan faktor keamanan eksplisit lebih mudah dikombinasikan dengan analisis fatigue. Rel gantry crane dan struktur dengan beban siklik sering didesain menggunakan pendekatan hybrid.
Dokumentasi perhitungan harus merujuk pada PQR (Procedure Qualification Record) dan WPQ (Welder Performance Qualification) yang valid untuk memastikan kapasitas desain tercapai di lapangan.
Faktor Koreksi dan Pertimbangan Khusus dalam Perhitungan
Perhitungan tegangan geser standar memerlukan modifikasi untuk kondisi lapangan aktual. Beberapa faktor kritis yang sering diabaikan:
Pengaruh Orientasi Las terhadap Beban
Las longitudinal (sejajar gaya) dan transversal (tegak lurus gaya) memiliki kapasitas berbeda. Berdasarkan riset, las transversal 30% lebih kuat dalam menahan geser dibanding las longitudinal dengan ukuran identik.
Untuk breising dan penopang lateral, orientasi las mempengaruhi distribusi tegangan pada bidang geser.
Efek Panjang Las
Las dengan panjang melebihi 100 × ukuran kaki memerlukan faktor reduksi karena distribusi tegangan tidak merata. Faktor β dihitung:
β = 1,2 – 0,002 × (L/a) ≤ 1,0
Pengaruh Temperatur Operasi
Struktur yang beroperasi di atas 250°C mengalami penurunan kuat nominal material. Faktor reduksi temperatur harus diaplikasikan pada tegangan kritis izin.
Proses surface preparation dan pelapis anti korosi juga mempengaruhi integritas jangka panjang sambungan yang terekspos lingkungan agresif.
Kesimpulan
Perhitungan tegangan geser pada las merupakan aspek fundamental dalam desain struktur baja yang aman. Rumus dasar τ = P / (0,707 × a × L) untuk las sudut menjadi starting point, namun engineer harus mempertimbangkan faktor koreksi orientasi, panjang, dan kondisi operasi.
Pemilihan antara metode LRFD dan ASD bergantung pada standar proyek dan karakteristik pembebanan. Untuk proyek domestik, SNI 1729 yang mengadopsi LRFD menjadi acuan primer.
Mulai dengan menghitung rasio utilisasi (tegangan aktual/tegangan izin) untuk setiap sambungan kritis. Target rasio 0,7-0,85 memberikan keseimbangan optimal antara keamanan dan ekonomi. Dokumentasikan dalam drawing fabrikasi untuk verifikasi post-weld inspection.
Pastikan setiap sambungan diinspeksi oleh Welding Inspector tersertifikasi dan proses pengelasan mengikuti WPS yang telah dikualifikasi melalui PQR sesuai standar AWS D1.1 atau BS EN ISO.


